Fase Penanganan Terorisme di Indonesia

 

OLEH: Sam Budigusdian

KEJAHATAN terorisme telah menjadi persoalan keamanan dunia, tidak terkecuali Indonesia. Dunia bersatu dalam memerangi  terorisme pasca 9/11 di New York dan Amerika Serikat. Demikian pula Indonesia, sejak peristiwa bom Bali yang menewaskan lebih dari 200 orang.

Dalam penangan terorisme di tanah air, ada tiga fase  yang kita tempuh, yakni fase realisme, liberalisme, dan era konstruktif. Fase realisme berlangsung saat Orde Lama. Penanganannya melalui pendekatan militer. Fase liberalisme terjadi pada masa Orde Baru, yang penanganan terorismenya dilakukan melalui pendekatan intelijen. Sedangkan era kostruktif terjadi di masa sekarang, di mana aparat menangani terorisme melalui pendekatan penegakan hukum.

Pada fase pertama, yang menangani adalah militer, yang menganggap terorisme sebagai musuh utama dan harus diperangi. Kita sebenarnya telah belajar dari negara lain, ketika instrumen militer dikerahkan, kelompok teroris mengeksistensi dirinya supaya seimbang.

Fakta yang seperti ini, bisa kita lihat di Irak dan Suriah. Ada sponsor yang berdiri di belakang kelompok teroris. Pada fase pertama negara full power alias berkekuatan penuh. Satu-satunya instrumen yang digunakan adalah kekuatan militer. Kemudian muncul Orde Baru yang melakukan pendekatan intelijen. Pada era berikutnya, kita kenal dengan teori insurgensi. Strategi utama yang kita kenal pertama kali dulu, kelompok-kelompok konspirasi ini atau istilahnya terjadi konspirasi, di mana mereka tidak melibatkan massa, namun hanya aktor-aktor yang bermain.

Namun dengan tepat mereka melakukan pengambilan kekuasaan melalui kudeta, lalu konspirasi terjadi. Contoh, dulu tidak melakukan kekuatan yang besar, ada dekrit presiden dan sebagainya, atau di negara-negara lain dengan teori konspirasi mengambil alih kekuasaan dengan paham-paham lawan politik.

Kemudian kedua, serangan radikal dan teroris dengan teori perang kota. Mereka menyerang simbol-simbol yang dianggap simbol lawan dari aktor-aktor teror. Kalau simbolnya adalah simbol milik asing Amerika, dan sebagainya, sekarang yang dianggap musuh bukan lagi Amerika seperti McD atau yang lain, tapi sekarang simbol-simbol yang dianggap mencegah radikalisme ini. Antara lain yang menjadi penghambat dan dianggap sasaran adalah polisi.

Terjadi penyerangan-penyerangan pusat kota. Itu yang terjadi hampir di seluruh dunia, dan terakhir kalau mereka melakukan itu tidak sesuai sasaran, maka akan terjadi seperti yang di Suriah dan di Mesir, serta di Irak. Saat ini, paham-paham radikal sudah mulai masuk melalui pengajian-pengajian, aliran-aliran tertentu, yang secara tidak langsung menginginkan dasar negara kita diubah menjadi dasar negara syariat Islam. Dan itu sudah terjadi saat ini.

KELOMPOK TERORIS
Penyebaran terorisme di Indonesia, tidak terlepas dengan kelompok teroris zaman dulu. Dulu, kita mengenal teror yang dihadapi oleh negara. Kita ingat peristiwa G30S/PKI tahun 1965. Kita ingat kasus DI/TII di Jawa Barat. Yang kemudian kelompok-kelompok ini berkembang menjadi transformasi DI/TII, dimana ideologi mereka tidak pernah mati dengan terjadinya pembunuhan tiga personel Polsek Cicendo. Ada penyerbuan ke Polsek Cicendo dan senjata-senjata yang dirampas itu
digunakan untuk membajak pesawat Garuda, yang berhasil dilumpuhkan pasukan kita, dengan pendekatan militer waktu itu. Kemudian, kita ingat ada pemboman Candi Borobudur. Waktu itu bomnya ditemukan dalam bus Pemudi.

Kapolda Kepri Irjen Pol Sam Budigusdian MH
Itulah fase-fase perkembangan teroris, yang menumbuhkembangkan jiwa patriotisme mereka, dengan istilah mereka berjihad. Kemudian separatis dan ekonasionalis ini muncul dengan berangkatnya kaum jihad ke Timur Tengah waktu itu, bergabung dengan Ustadz Abu Bakar Baasyir dan Abdullah sungkar. Ini tokoh-tokoh yang kita kenal dari kelompok Jamaah Ansharut Tauhid atau JAT.

Yang mereka lakukan adalah, pengemboman Kedubes Filipina di Jakarta, tahun 2000. Kemudian, ada bom Bali tahun 2002 dan 2005. Kemudian bom hotel JW Marriott tahun 2003 dan terjadi lagi tahun 2009. Mereka menggunakan teori yang sangat gradual bertingkat-tingkat, kemudian kelompok Abu Bakar Baasyir atau JAT banyak berhasil melakukan teror di Indonesia, penyebaran dari kelompok pecahan Timur Tengah waktu itu, yakni Al Qaeda.

Setelah dilakukan upaya hukum terhadap Abu Bakar Baasyir, terungkap latar belakang dari peristiwa-peristiwa tersebut. Muncul gelombang kedua teroris yang merupakan pecahan dari Al Qaeda, ditambah dengan munculnya pecahan dari kelompok pimpinan di Irak, Saddam Hussein, pecahan dari pasukan loyalis. Mereka membentuk ISIS.

Tokoh Indonesia yang bergabung di Timur Tengah, kemudian menyebarkan ajaran ini adalah Amar Abdurrahman, yang kita kenal memiliki pondok pesantren di Bogor. Ketika pertama kali saya datang ke Batam, mereka pernah melaksanakan pertemuan di sini, tapi kemudian hilang informasinya.

Mereka melatarbelakangi ledakan bom di kawasan Thamrin, Jakarta tahun 2016. Kemudian bom bunuh diri di Mapolresta Cirebon, diikuti dengan bom bunuh diri di Mapolresta Surakarta. Kemudian terakhir, yang kita kenal sebagai bom Kampung Melayu. Dan, yang sangat terakhir mereka bukan lagi menyerang tempat-tempat umum, tapi sudah melakukan aksinya di dalam masjid. Pelaku solat bersama polisi. Begitu mengucapkan salam, polisi yang kiri dan kanan disangkur. Pelaku kemudian
melarikan diri dan tewas tertembak.

Ini perbedaan antara JAT dan JAD (Jamaah Ansharut Tauhid) Al Qaeda dengan ISIS. Ketika terjadi penyerangan yang dilakukan JAT, pada saat korbannya adalah sesama muslim, mereka mendoakan korban masuk surga. Tapi ISIS, yang tak sepaham dengan mereka sah hukumnya untuk dibunuh. Jadi, ciri-ciri mereka sudah dipahami polisi. Mereka mengebom masjid di Cirebon saat orang lagi salat, berarti mereka ini adalah kelompok ISIS. Sebenarnya Al Qaeda juga kesal dengan mereka, kok ISIS
yang junior kini lebih terkenal dari mereka yang sudah senior.

Kemudian, kita mengenal Dr Azhari dan Noordin M Top, tokoh anti Malaysia yang lari ke Indonesia, dan menyebar teror saat Al Qaeda berkembang tumbuh subur di Indonesia. Salah satunya peristiwa-peristiwa Maluku, kemudian kelompok ini membuat tempat berjihad di Poso, Sulawesi Tengah yang dikenal sebagai Kelompok Santoso, yang saat ini telah berhasil dilumpuhkan.

INDONESIA PALING BERHASIL
Kemudian yang sangat terakhir adalah, perkembangan radikalisasi di dunia. Mereka tidak lagi menyerang dengan bom bunuh diri secara berkelompok, tapi istilahnya sekarang belajar radikalnya lewat internet. Jadi mereka yang sudah dicuci otaknya, diperintahkan lewat internet. Dari mulai dilatih membuat bom, sampai diperintahkan untuk melaksanakan jihad dengan sasaran tertentu. Tidak
menggunakan bom. Sekarang, di kerumunan orang, pelakunya menusuk banyak orang.

Di Indonesia, ini tanda-tandanya sudah mau terjadi. Di luar negeri, terakhir di Manhattan, sebelumnya di Jerman, sebelumnya lagi di Inggris. Sehingga yang kita lawan bukan hanya teroris yang senjata, tetapi juga yang membawa bom. Dulu di Inggris, polisinya hanya membawa pentungan dan peluit, dan orang-orang sudah merasa aman. Tapi, karena di Inggris tidak aman lagi, polisi di sana sudah dipersenjatai.

Indonesia dinilai sebagai negara yang paling berhasil menangani teroris. Sebab, di setiap peristiwa, polisi yang turun mampu mengungkapnya. Sehingga polisi Indonesia dianggap perlu melakuka proses sosialisasi menangkalnya, melalui pengajian-pengajian dan kelompok-kelompok aliran, yang sejak dini harus diantisipasi.

Jadi sekarang mereka menyebarkan paham itu melalui internet. JAT dan JAD, sejak tahun 2014 mengubah pola penyerangannya dengan melatih para lone wolf, yang latihannya secara online.

Mereka melatih anak-cucu kita, anak-anak muda kita melalui online, belajar bikin bom, belajar membunuh di internet, itu tadi istilah sekarang Medsos. Dan rata-rata sekarang yang melakukan lone wolf alias beraksi sendiri adalah simpatisan atau pengikut ISIS.

Seperti yang sudah saya jelaskan, pada saat Orde Lama sejak Proklamasi 17 Agustus, sampai penumpasan DI/TII tadi, ada peristiwa di Jawa Tengah dan Sulawesi Utara. Itu semua pendekatannya dengan pendekatan militer. Sementara di Orde Baru, pendekatannya dengan intelijen di mana terjadi pengiriman kader dari tahun 1985-1991 ke Afganistan, ke Moro di Filipina. Tadi saya sebut, aktor di belakangnya Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Baasyir.

Sehingga ketika di sana diperangi, nanti pulangnya ke Indonesia. Seperti sekarang, ketika kalah di Irak dan Suriah, sekitar 6.000 anggota ISIS kembali ke kampung halaman masing-masing. Sekitar 590 adalah WNI. Yang sudah pulang kemarin itu, Direktur BP Batam dan keluarganya. Sampai di sana, jika tidak dapat berjuang para bapaknya, berangkatlah para ibu dan anak-anaknya untuk men-support dapur umum. Namun, ibu-ibu dan anak-anaknya di sana dijadikan budak seks.

Dari 590 yang pulang itu, kita harus bersiap-siap. Jangan sampai ketika mereka pulang nanti melebarkam paham itu, dan tiba-tiba dalam lima atau tiga tahun ke depan kita menjadi bangsa yang mudah galak, mudah marah, karena telah dimasuki paham yang tadi itu.

UPAYA DERADIKALISASI
Lalu, bagaimana menanggulanginya? Antara lain dengan meningkatkan kerja sama internasional, regional, dan nasional serta samakan persepsi bahwa ISIS adalah teroris global baru, yang menjadi musuh bersama, musuh dunia. Kemudian ada beberapa pendekatan di tingkat lokal. Artinya, kaum ibu bisa menjadi intelijen di rumah tangga, di kampungnya. Kalau ada yang aneh-aneh silakan lapor agar polisi setempat bisa melakukan upaya-upaya, penyidikan-penyidikan.

Kemudian ada cara-cara kontra radikalisasi, kontra ideologi, dan kontrol media. Ada juga mereka yang memanfaatkan media, termasuk media sosial seperti aplikasi chat Telegram. Pemerintah sempat melarang Telegram, sebab di sana ada cara menjadi anggota atau simpatisan ISIS, ada cara membuat bom. Namun, Telegram dibolehkan lagi setelah fitur tersebut dihapus. Karena dunia sekarang semakin berkembang, paham itu masuk ke Medsos lain.

Strategi untuk menanggulangi tadi, ada strategi soft approach melalui kontra radikalisasi yakni mencegah masyarakat tidak masuk ke paham radikal. Contohnya kelompok ibu-ibu Muslimat NU bisa mengingatkan suami dan anak-anak. Dari para suami menyebar ke pihak lainnya.

Deradikalisasi tidak hanya bisa dilakukan polisi saja. Di Singapura tidak dipakai hukum pidana. Ada tanda-tanda teroris, langsung tangkap. Istri dan anak-anaknya dibiayai negara. Biar mereka juga tahu, kalau negara mereka memberikan jaminan. Tujuannya agar mereka kembali ke paham yang benar.

Indonesia belum bisa, jumlah yang begini ribuan, mampu tidak Pemda? Sedangkan di Batam, Pemda bingung ketika kelompok Gafatar pulang. Pemda hanya kasih makan tiga hari. Ini problem yang kita hadapi karena rata-rata penganut paham radikal secara ekonomi mereka kurang beruntung.

Kemudian upaya menetralisir situasi, mencegah tumbuhnya radikal, menggali
penyebab timbulnya radikal, dendam sakit hati, ini seharusnya segera dilakukan.
Polisi tidak hanya menumpas, tapi perlu melakukan tindakan kontra radikal,
deradikalisasi, menetralisir saluran, dan menetralisir situasi.

Dan, ini bukan cuma peran polisi, perlu juga dari kementerian agama, MUI, para ulama, para pengusaha yang bersama-sama menyadari bahwa mereka yang terpapar radikal adalah keluarga kita yang harus dikembalikan ideologinya Dan, ini susah, kalau sudah menyangkut ideologi susah. Bapak Kapolri mencontohkan kebetulan beliau Ketua Tim Satgas Densus. Contoh beliau mengangkap
pelaku teroris yang masih hidup dari kelompok ISIS. Mereka menangis ketika ditahan hidup-hidup. Kenapa saya tidak dibunuh saja pak, hilang kesempatan saya masuk surga. Jadi operasi jihad ini mati di tembak dapat surga, dapat 70 bidadari. Momentum seperti ini dicari memang, bayangkan yang mereka cari mati.Belum lagi yang istilah pengantin. Kalau diceritakan seperti ini jangan-jangan
Pak Kapolri bohong. Direkam oleh tim independen ternyata semua yang ada di dalam
sel itu menyatakan hal yang sama.

Kemudian ingin saya sampaikan, peta kelompok atau perorangan pendukung ISIS yang ada di Kepri. Di Batam kelompok JAT, kelompok dari Abubakar Baasyir ada lima orang, sudah ada di BNPT, satu orang rekruter pendukung ISIS, kemudian dari ISIS ada dua orang, mereka ditolak masuk ke Singapura lalu ke tempat kita, kemudian simpatisan ISIS ada satu orang. Rata-rata datang ke Batam hendak ke Singapura. Saya pernah protes kepada imigrasi Singapura, kenapa warga saya
diperiksa, semua seolah-seolah dituduh teroris. Singapura sangat sensitif. Negara lain mengawasi aliran-aliran seperti itu. Di Indonesia, demokrasi tidak terbatas, semua boleh sampai kami tidak bisa mengawasi. Kemudian anggota Ikhwanul Muslimin satu orang yang dideportasi dari Uni Emirat Arab dan pulangnya ke Batam. Kita ingat ada Khitabah Gonggong Rebus (KGR) yang merencanakan
pemboman Singapura, ada tujuh orang yang kita tangkap. Kemudian di Karimun ada satu simpatisan ISIS yang menyerang Polres, di Tanjung Pinang ada satu rekruter pendukung ISIS. Di Lingga, Natuna, Bintan, Anambas belum terdeteksi.

KESIMPULAN
1. Potensi konflik yang melibatkan aktor non-negara. Di dunia ini tidak ada perang dengan negara lain. Yang ada ialah melawan kelompok aktor non-negara seperti kelompok separatis, teroris, dan radikal. Amerika di Suriah, perangnya melawan negara apa bukan? Bukan, yang dilawan adalah aktor non-negara. Potensi konflik yang melibatkan aktor non-negaramenjadi lebih besar seiring dengan perubahan dunia. Bisa saja di Indonesia ada kelompok yang bukan negara, bukan ormas tapi dia radikal, kecil tapi militan.

2. Untuk itu perlu pendekatan yang soft approach dan hard approach secara simultan. Soft approach sudah dijelaskan tadi, seperti membuat pengajian-pengajian yang intensif. Kalau ada orang yang kenal jangan dimusuhin, didekatin keluarganya, diajak kejalan yang benar. Kelompok-kelompok agama Islam yang lainnya merekrut mereka kembali ke jalan yang benar.

3. Perlu optimalisasi peran polisi dan soft approach, sebab pendekatan secara hard approach dinilai lebih berhasil. Pendekatan kekerasan, orang senang kerja Densus. Sebenarnya kekerasan ini bukan satu-satunya cara, itu cara terakhir. Cara terbaik ialah cara yang dilakukan organisasi-organisasi keagamaan melalui pengajian-pengajian atau silaturahim. Hanya saja, intensitasnya yang perlu ditingkatkan.

REKOMENDASI
1. Sebagai penanggungjawab terpeliharanya Kamtibmas, anggota polri perlu memahami apa itu insurgensi dan kontra-insurgensi. Perlu kita pahami bagaimana perkembangan terorisme, bagaimana pola penyerangannya, pola penyebarannya. Dari situ kita bisa me-mapping. Orang atau kelompok yang boleh menyerang masjid itu berarti kelompok ISIS. Al Qaeda tidak menyerang masjid. Atau kalau di Indonesia itu JAT/JAD.

2. Optimalisasi fungsi Binmas dan intelijen dengan anggaran yang memadai guna mendukung kegiatannya. Binmas polda, intelijen Polda bekerjasama dengan perguruan tinggi. Kemudian bekerjasama dengan PW Muslimat NU Kepri, dan ini adalah pertama kali di Indonesia.

3. Bersinergi dengan instansi terkait untuk merevisi UU Tindak Pidana Terorisme yang lebih efektif, tanpa melanggar HAM. Jadi apakah setuju teroris dihadapi dengan angkatan perang? Kalau dengan perang, yang datang nanti dari negara lain. Jadi harus dipertimbangkan, apa dengan hukum, apa dengan aturan lain. Kalau diperangi nanti negara kita sepeerti Suriah, Irak dan sebagainya. Fakta-fakta pengalaman sejarah ini harus kita pahami.

4. Mengembangkan pemahaman taktis agar lebih mumpuni. Jadi kami dari Brimob Polda terus latihan, di Batam kerjasama dengan Banser.

5. Perlu dibentuk pengajian yang membahas radikalisme dan terorisme. Ini sedang diproses. Suatu keniscayan saat ini Muslimat, MUI,FPI, Kemenag, Ansor berkontribusi, dengan Polda Kepri mau ikut merumuskan penanganan terorisme dan radikalisme di Kepri. Kalau tidak, polisi tidak mampu sendiri, TNI juga tidak akan mampu sendiri. Oleh sebab itu program kerja masing-masing perlu dibuat untuk menghadapi ancaman yang nyata. Bayangkan kalau kita tidak lakukan sekarang. Sesama muslim kita bunuh, dibunuh hanya karena berbeda aliran. Dan ancaman ini terus digulirkan karena ada yang mensponsori supaya kita sesama anak bangsa perang sendiri, nanti sumber alamnya diambil mereka. Jadi harus kita kompak, ketika mendeteksi aliran-aliran sekecil apa pun, aliran yang aneh-aneh.***

 

Catatan Redaksi: Seperti yang disampaikan pada acara Halaqoh Ulama dan Umaro di Wisma Haji Batam, Jumat 3 November 2017. Acara dilaksanakan atas kerjasama Polda Kepri, Puskamnas Ubhara Jaya dan Rumah Kamnas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *